Cerita Perjalanan Menuju Ranukumbolo

Ranukumbolo
Ranukumbolo adalah salah satu destinasi yang ingin saya kunjungi. Melihat keindahan danau yang ada dikawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di instagram atau internet bikin iri. Kebanyakan teman - teman yang suka naik gunung sudah pernah ke sana jadi sedikit sulit untuk menemukan teman yang mau diajak jalan kesana. Untung lah ada Deli yang mau saya ajak kesana setelah kami ngetrip bareng dari Bali. Dia bilang " kalau ke Ranukumbolo gw mau ngulang lagi deh, asal jangan ke pantai soalnya gw mau jadi bridesmaid ntar kalau ke pantai kulit gw bisa tambah hitam ". 

Nemu Trip Murah
Awal bulan Juli saya mulai cari - cari open trip di websitenya bakcpacker indonesia dan akhirnya ketemu lah satu open trip yang sesuai dengan yang kami mau. Nama tripnya Ngalam Trip klik disini base campnya ada di desa Kunci Malang dan nama pemilik tripnya mas Galuh. Mas Galuh menawarkan mau ikut kemping ceria di Ranukumbolo saja Rp. 750.000,- atau sekalian ke Bromo dengan biaya tambahan Rp. 100.000,-/orang. Woww murah banget jadi total harga paket Ranukumbolo + Bromo hanya Rp. 850.000,-/orang. Kami langsung DP trip, cari tiket kereta untuk berangkat dan tiket pesawat untuk kembali ke Jakarta. Deli mengajak satu orang teman kantornya untuk trip Bromo saja jadi nanti kami ketemu di desa Kunci setelah kami turun dari Ranukumbolo. 


Drama hampir ketinggalan kereta
Kamis tanggal 27 Juli kami berangkat dari Jakarta menuju kota Malang. Kereta berangkat jam 18.15 dan saya ijin pulang jam 3 sore untuk pulang dulu ke kosan. Jam setengah lima saya mulai pesan ojeg online dan applikasi ojeg online yang saya pesan ternyata eror. Dan sialnya lagi sekalinya ada yang nge pick ojeg yang nge pick posisinya jauh banget, saya langung minta di cancel saja daripada nunggu lama. Pas mau order baru sudah mulai susah dapat ojeg nya karena sudah jam 5 sore jam pulang kantor. Saya mulai panik dan jam 5 lewat saya baru dapat ojeg, saya minta ke driver untuk ngebut ke stasiun pasar senen karena saya dikejar waktu. Kepanikan saya tidak sampai disitu saja, jalanan sudah mulai macet ditambah ada pembangunan MRT/LRT di jalan Rasunahsaid jadi macetnya stuck. Deli sudah sampai duluan distasiun dan beberapa kali menanyakan keberadaan saya karena distasiun sudah di info untuk kereta menuju Malang sudah tiba di stasiun dan penumpang sudah boleh memasuki kereta.
" Jul uda sampe mana ? ini di announce lagi untuk penumpang ke Malang, bentar lagi mau jalan takutnya sebelum jam 18.15 keretanya jalan "
" Gw masih dijalan Del doain aja biar gw bisa sampe sana "
Saya ampe mohon sama drivernya untuk ngebut dan nyalip karena kereta saya sudah mau jalan. " Pak boleh minta tolong lebih cepat lagi gak dan nyalip soalnya bentar lagi kereta saya mau jalan pak ". Bapak drivernya juga sudah mulai kesal dan beberapa kali beliau terabas maksa lampu merah dan hampir keserempet kendaraan lain gara - gara saya yang tergesa - gesa.

Dia lagi dia lagi
Jam 6 sore saya tiba di depan stasiun Pasar Senen dan saya buru - buru lari kedalam dengan carriel di punggung saya. Dan thanks God akhirnya beberapa menit lagi kereta mau melaju saya sudah sampai distasiun, fiuhh lagi - lagi kejadian mau ketinggalan kereta terjadi lagi. Akhirnya kami bisa duduk di kursi kereta dengan nafas yang masih terengah - engah. Perjalanan kurang lebih 16 jam memaksa kami untuk minum 2 butir sekaligus ant*mo biar tidur nyenyak. 

Peserta lain cancel jadi kami hanya jalan berdua berasa private trip
Jumat jam 10 pagi kami tiba di stasiun Malang dan disana kami berdua dijemput oleh drivernya mas Galuh dengan mobil grand livina yang nyaman. Kami sempat bingung kok hanya kami berdua yang dijemput, mungkin tiga orang lagi sudah sampai duluan disana. Sesampainya di rumah mas Galuh di desa Kunci beliau langsung kasih kabar yang mengejutkan.
" Mba nanti yang jalan ke Ranukumbolo nya hanya berdua doank yah, yang tiga lainnya tadi malam baru kasih kabar dicancel karena salah satu dari mereka sakit jadi yang lainnya ikutan cancel "
" Waduh serius mas, terus ini gakpapa kita jalan berdua doank jadi kaya private trip  (karena saya mikirnya rugi gak nih cuma kami berdua doank)"
" Gakpapa mba yang penting kalian tetap jalan kesana ".
" Kita sih gakpapa mas jalan berdua doank malah kita yang jadi nggak enak ".
" Gakpapa mba guidenya juga uda siap kok dua orang jadi nanti naik ke atasnya berempat, tapi jalannya setelah shalat jumat yah jadi makan siang dulu dan kalau mau mandi silahkan mandi. Barang - barang yang dibawa secukupnya saja sebagian dititipin disini saja ".
" Ok mas saya numpang mandi deh biar segar "
" Oh yah mba nanti ke desa Ranu pane nya naik motor gakpapa yah "
" Gakpapa mas santai saja yang penting kita bisa sampai disana ".
Sebenarnya saya ikut open trip lagi berharap dapat teman baru dan kalau ramai mungkin lebih seru kemping cerianya. Tapi tidak apa - apa yang penting saya bisa ke Ranukumbolo saja sudah senang.

Pendakian ke Semeru di tutup sementara
Setelah selesai shalat jumat kami langsung naik motor selama satu jam menuju desa Ranu pane. Guide kami Pak Weni dan Mariadi menggunakan motor masing - masing karena mereka bawa carriel yang tinggi. Saya dan Deli di bonceng dengan dua orang mas - mas, duh lupa namanya siapa. Perjalanan selama satu jam naik motor lumayan bikin pantat pegal. Sesampai di Ranu pane Pak Weni dan Pak Mariadi mengurus semua simaksi jadi kami hanya memberikan KTP dan surat keterangan sehat dari dokter. Ikut briefing pengarahan sebentar lalu kami diperbolehkan untuk pendakian menuju Ranukumbolo. Oh yah ketika kami disana ada dua orang pendaki yang hilang sudah dua hari setelah turun dari Semeru jadi sementara pendakian ke Semeru ditutup jadi pendakian hanya sampai Ranukumbolo saja. Kalau besok pendaki tersebut belum ditemukan makan pendakian ke Semeru maupun Ranukumbolo ditutup total. Untung lah pas kami sampai disana masih bisa ke Ranukumbolo, yang kasihan orang yang sudah jauh - jauh datang dari pulau jawa mau muncak ke Semeru.
Selamat datang
Jam 3 sore kami memulai pendakian ke Ranukumbolo, baru melewati gerbang masuk TNBTS sudah mulai menanjak kalau kata Pak Mariadi ini namanya pemanasan mba. Waduh segini baru pemanasan nafas saya sudah mulai ngos - ngosan. 

View perjalanan
Untuk sampai di danau Ranukumbolo kami harus melewati 4 pos. Dalam perjalanan menuju pos 1 mata kami dimanjakan dengan pemandangan gunung Semeru. Sesampai di pos 1 kami mampir untuk ke toilet karena hanya di pos 1 ada toilet daruratnya. Kami sekalian istirahat di warung yang ada di pos 1 sambil makan semangka, rasanya segar banget makan semangka dingin seperti baru dikeluarin dari kulkas. Sinyal terakhir hanya sampai di pos 1 setelah dari pos 1 sinyal hilang sama sekali. 


Ketemu Abang Hamish Daud
Selesai istirahat kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2, jarak dari pos 1 ke pos 2 tidak terlalu jauh. Di pos 2 kami istirahat lagi dan kami langsung melanjutkan perjalan ke pos 3 karena hari sudah mulai gelap. Saya mulai mengeluarkan head lamp dari dalam carriel dari pada nanti sudah gelap kerepotan mengeluarkannya. Jarak dari pos 2 ke pos 3 lumayan jauh, Saya mulai kelelahan  sedikit - sedikit berhenti istirahat sampai bilang ke dua bapak itu " Pak kita jalan duluan yah bapak istirahat yang agak lamaan aja, pasti juga nanti kita kesusul jalannya ". Saya dan Deli jalan berdua duluan kami bareng dengan dua orang cowok asal Surabaya. Lagi serius jalan dengan badan yang sudah lemas saya di kejutkan dengan tiga orang laki - laki dari arah berlawanan. Cowok paling depan bawa kamera yang kelihatannya mahal dan keren digantung kan dilehernya, di tangan kirinya ada HT kecil. Saya fikir mereka adalah Team SAR yang lagi cari orang hilang tapi pas saya lihat orang dibelakangnya. Kok kaya kenal yah dan cakep pula, hidungnya mancung dan bule. Pas mereka lewat saya baru ngeh kalau cowok yang kedua itu adalah artis Hamish Daud yang waktu itu masih tunangannya mba Raisa. Duh kenapa saya telat yah sadarnya, Deli yang ada didepan saya langsung noleh kebelakang dan bilang.
" Jul Hamish Jul minta foto bareng "
" Duh enggak ah malu, lagi kucel gini trus dia lagi serius ngobrol sama temennya lagian tempatnya juga gak memungkinkan untuk foto bareng Del karena sempit terus uda mulai gelap ".
Gakpapa deh gak bisa foto bareng yang pasti kehadiran Hamish jadi memberikan sedikit semangat disaat badan uda mulai lemas.

Tidak berapa lama ke dua bapak itu uda mulai nyusul kami berdua, duh bapak - bapak itu jalannya cepat banget. Lalu Saya mulai menanyakan kapan sampai di pos 3, kata Pak Mariadi kalau sudah melewati jembatan berarti sudah hampir dekat ke pos 3. Jalannya sih tidak terlalu menanjak hanya melipir bukit tapi karena beban yang saya bawa bikin perjalanan jadi berat. Segini isi dalam carriel sebagian sudah dikurangi yah apalagi kalau nggak dikurangi. Saya tanya ke si Bapak " di atas nanti ada trek nanjak lagi nggak pak ? ". Jawab beliau " ada satu tanjakan yang lumayan ekstrim mba setelah pos 3, nanti kalau mba nya nggak kuat carrielnya saya yang bawa saja. 

Akhirnya kami melewati jembatan dan sampai di pos 3, seperti biasa kami istirahat tapi kali ini kami istirahat agak lama karena kondisi badan saya yang mulai kecapaian sekalian persiapan untuk nanjak di tanjakan yang ekstrim. Selesai istirahat kami langsung melanjutkan perjalanan, setelah beberapa menit melewati pos 3 kami sampai di depan tanjakannya. Dan woww ternyata tanjakannya lumayan tinggi dan ekstrim saya sedikit takut, takut gak bisa naik sambil bawa carriel. Pak Mariadi menawarkan untuk membawakan carriel saya tapi saya tidak tega melihat badannya yang kecil dan carrielnya yang tinggi banget. Saya bilang " Gak usah pak saya coba dulu naik sendiri tapi tolong dipegangin dari atas dan dijagain dari atas ". Head lamp saya masukkan dalam jaket supaya saya leluasa naiknya, dari atas si bapak menerangi saya dengan cahaya lampu head lampnya dan mengarahkan langkah saya. Untung lah ada seutas tali yang bisa membantu untuk naik keatas dan thanks god saya bisa melalui tanjakannya. 

Rintangan kecil tidak cukup sampai disitu sebelum pos 4 nanti ada turunan yang lumayan curam, Deli dulu pernah terpeleset disana. Dan tidak terasa kami sudah di depan turunan yang dimaksud, benar saja turunannya lumayan curam untung hari ini tidak hujan kalau hujan mungkin kami bisa jatuh terpeleset. Dari pos 3 ke pos 4 perjalanan kurang lebih 30 menit, dari kejauhan sudah mulai kelihatan lampu - lampu dari tenda para pendaki. Dan suara - suara orang - orang seperti biasa sudah mulai terdengar, Pak Weni bilang kami sudah hampir sampai. Tapi rasanya saya sudah tidak kuat untuk berjalan lagi dan punggung saya terasa pegal. Kalau kaya gini rasanya kapok untuk naik gunung karena perjuangannya menurut saya lumayan capek. Padahal segini baru ke Ranukumbolonya saja belum sampai puncak Mahameru. Duh pengen nangis, teriak dan lempar carriel saya kok rasanya gak sampai - sampai. Kali ini pak Mariadi menawarkan diri untuk membawa carriel saya tapi saya juga bersih keras menolak. Saya bilang " Gakpapa pak saya masih kuat kok gak afdol rasanya kalau dibawain, jalannya pelan - pelan saja ".

Dan akhirnya sampai lah kami di shelter Ranukumbulo, Saya dan Deli disuruh untuk istirahat di shelter selagi mereka mencari tempat untuk mendirikan tenda. Sambil menunggu kedua bapak itu mendirikan tenda kami memesan teh manis hangat di warung yang ada di shelter. Di shelter banyak porter yang nongkrong sambil menghangatkan diri didepan perapian. Saya mengobrol dengan salah satu porter yang ada disana menanyakan apakah ke dua pendaki yang hilang itu sudah diketemukan. Porter itu bilang sudah diketemukan tadi siang dan langsung dibawa ke desa Ranu pane dan besok pendakian ke Ranukumbolo tidak jadi ditutup. 

Dengar cerita orang hilang di Semeru
Dari porter tersebut saya mendengar cerita bahwa waktu itu pernah ada sepasang bule yang tersesat setelah turun dari Semeru. Mereka baru ketemu dan kenalan setelah selesai summit, lalu mereka turun bareng dan tersesat. Entah kenapa mereka berdua akhirnya berpencar, bule cewek berhasil diketemukan oleh pendaki yang lain sedangkan bule cowok belum diketemukan sampai sekarang. Sebenarnya team TNBTS tidak bertanggung jawab atas kehilangan pendaki bule cowok tersebut karena dia masuknya saja ilegal. Tapi akhirnya tetap dicari juga oleh team TNBTS bersama dengan suku tengger selama satu bulan. Selama satu bulan masih belum diketemukan juga dan akhirnya pihak TNBTS mengembalikan kepada pihak keluarga. Dari pihak keluarga sendiri melakukan usaha untuk mencari saudaranya yang hilang tersebut dengan membayar warga tengger untuk mencari saudara mereka selama satu bulan. Dua bulan di cari - cari pendaki bule tersebut tidak diketemukan juga sampai saat ini. Dengar cerita itu saya lansung merinding dan membayangkan gimana bule itu bertahan dengan dinginnya gunung Semeru tanpa tenda, sleeping bag dan makanan. 

Tidak terasa pak Mariadi menghampiri kami berdua beliau memberitahukan kami bahwa tenda sudah siap. Kami langsung masuk kedalam tenda karena cuaca diluar semakin dingin. Pak Mariadi dan pak Weni diluar sibuk masak untuk makan malam kami berdua. Beliau menawarkan mau minum teh atau kopi sambil nunggu makanan matang. Baru kali ini saya kemping semuanya tersedia dan dilayani seperti di hotel. Menu makanannya pun variantnya banyak ada soup, ayam goreng, tahu dan tempe goreng. Makanan kami lumayan banyak tersisa karena dari awal mereka sudah mempersiapkan logistik porsi untuk lima orang. Selesai makan malam kami mengucapkan terimakasih untuk makan malam nya yang mewah untuk ukuran kemping dan ijin pada mereka untuk tidur duluan karena hari ini kami benar - benar capek. Akhirnya kami bisa beristirahat dengan nyaman dan tidak sabar untuk sunrise besok pagi.





Comments

Popular posts from this blog

Backpacker ke Nusa Penida Bali

Kemping Ceria di Hutan Pinus Loji Bogor

Fun Beach Camp di Pulau Sangiang Banten